Hantu Jongkok di Kosan wak dol

Di sebuah kos-kosan tua bernama Kosan wak dol, ada satu aturan tidak tertulis yang selalu diingatkan penghuni lama kepada anak baru: jangan pernah keluar kamar saat lewat tengah malam kalau tidak ingin ketemu dengan Hantu Jongkok.
Tentu saja, seperti semua cerita horor pada umumnya, tidak ada satu pun anak kos yang benar-benar percaya. Sampai akhirnya mereka percaya… dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.
Kosan wak dol itu sebenarnya biasa saja. Cat dindingnya sudah mengelupas seperti kulit ular, tangga kayunya suka bunyi “kriet kriet” seperti lagi curhat, dan lampu lorongnya lebih sering redup daripada terang. Tapi harga sewanya Link KETUATOTO sangat murah, dan itu sudah cukup bagi mahasiswa bernama Dimas untuk sekedar bertahan hidup.
Dimas ini tipikal anak kos yang skeptis. Baginya, hantu itu cuma mitos untuk menakuti orang malas. Teman sekamarnya, Raka, justru kebalikannya: penakut kelas berat yang bahkan bayangan sendiri pun bisa bikin dia minta pindah kamar.
Suatu malam, sekitar jam 1 dini hari, Raka tiba-tiba ingin makan Indomie. Masalahnya, dapur umum ada di ujung lorong yang gelap gulita.
“Dim… temenin gue ke dapur DAFTAR KETUATOTO,” bisik Raka sambil menggigil.
“Gue lagi main game,” jawab Dimas tanpa menoleh.
“Serius, gue denger suara aneh di luar.”
Dimas menghela napas. “Kalau hantu pun, dia juga lagi diet jam segini.”
Akhirnya Raka pergi sendiri. Dengan langkah pelan dan senter HP yang hampir mati, dia berjalan seperti karakter film horor yang sudah pasti akan kena jumpscare.
Baru separuh lorong, dia berhenti.
Ada suara… kriet… kriet… kriet…
Suara itu seperti orang berjalan, tapi bukan langkah biasa. Lebih seperti… gesekan lutut di lantai.
Raka LINK KETUA TOTO menahan napas. Senter HP-nya gemetar.
Lalu dia melihatnya.
Di ujung lorong, ada sosok hitam… jongkok.
Bukan berdiri. Bukan melayang. Tapi jongkok.
Diam.
Tidak bergerak.
Seperti orang yang lupa cara berdiri setelah lama mikir.
Raka langsung mundur perlahan. “Oke… itu bukan Indomie yang gue cari.”
Tapi sebelum dia bisa balik badan, sosok itu bergerak.
kriet… kriet…
Sosok itu maju sambil tetap jongkok. Seperti main petak umpet tapi lupa aturan.
Raka langsung lari sambil teriak, “DIMASSSS!!! ADA HANTU JONGKOKKKK!!!”
Dimas yang sedang fokus game langsung kaget. “Hantu apa?”
“HANTU JONGKOK! DIA JALANNYA KAYA LAGI SQUAT TANPA NAIK!”
Dimas mengira Raka KETUATOTO DAFTAR cuma halu karena lapar. Tapi jeritan Raka makin lama makin dekat, diikuti suara “kriet kriet” yang sekarang terdengar seperti ikut mengejar.
Pintu kamar terbuka dengan keras. Raka masuk sambil hampir nangis.
“Dia di luar!”
Dimas akhirnya mengintip. Lorong kosong. Gelap. Sunyi.
“Mana ada apa-apa.”
Baru saja Dimas mau nutup pintu, tiba-tiba…
kriet… kriet…
Dari ujung lorong, muncul sosok itu.
Jongkok.
Pelan.
Stabil.
Dan yang paling aneh… dia seperti meluncur bukan berjalan.
Dimas langsung diam.
“Hah…” katanya pelan. “Ini apaan sih… atlet atau hantu?”
Sosok itu berhenti tepat di bawah lampu redup ketuatoto. Sekarang terlihat lebih jelas.
Bentuknya seperti manusia, tapi posisinya 100% jongkok permanen. Mukanya tidak jelas, tapi ada satu hal yang membuat suasana makin absurd: dia pakai sandal jepit.
Sandal jepitnya itu yang bunyi “kriet kriet” setiap dia maju.
Raka berbisik, “Dia… dia lihat kita gak?”
Dimas menjawab pelan, “Gue lebih khawatir dia pegel apa nggak.”
Tiba-tiba, Hantu Jongkok itu bicara.
“...Kalian punya… wifi?”
Suasana langsung hening.
Raka melongo. “Hah?”
Hantu itu mengulang, lebih pelan, “Wifi… saya tinggal di sini tapi sinyalnya lemah.”
Dimas dan Raka saling pandang.
“Ini… hantu atau anak kos juga?” bisik Dimas.
Hantu Jongkok menggeser sedikit posisinya sambil tetap jongkok. “Saya cuma mau numpang hotspot. Dulu saya meninggal pas lagi download file 99%.”
Raka hampir pingsan. “Jadi lo bukan hantu gentayangan, tapi hantu kuota?”
Hantu itu mengangguk pelan.
“Nama saya… dulu sih Budi. Sekarang dipanggil Hantu Jongkok karena saya capek berdiri.”
Dimas mulai kehilangan rasa takutnya. “Kenapa jongkok terus?”
“Lebih hemat energi,” jawab Budi santai. “Lagipula kalau berdiri nanti saya kepikiran hidup lagi.”
Suasana jadi absurd.
Raka malah duduk di lantai. “Jadi lo ganggu orang cuma karena sinyal KETUATOTO ALTERNATIF”
“Bukan ganggu,” kata Budi. “Saya cuma cari WiFi stabil buat update alam baka.”
Dimas akhirnya menghela napas. “Ya ampun… kita kira setan, ternyata user komplain provider.”
Sejak malam itu, kosan wak dol tidak lagi ditakuti karena hantu.
Justru Hantu Jongkok jadi semacam “tetangga baru” yang sering nongkrong di lorong sambil nyari sinyal terbaik. Kadang dia pindah-pindah posisi jongkok, dari depan kamar ke dekat tangga, seperti orang lagi cari spot WiFi gratis di kafe.
Penghuni kos bahkan mulai terbiasa.
Kalau ada suara “kriet kriet” di malam hari, mereka cuma bilang, “Oh, Budi lagi pindah server.”
Bahkan Raka pernah kasih nama hotspotnya: Koswakdol_5G_SURGA.
Yang paling lucu, suatu malam Hantu Jongkok berhasil dapat sinyal penuh. Dia langsung teriak bahagia:
“AKHIRNYA BISA STREAMING!!!”
Dan seluruh kos mendengar suara tawa puas dari lorong gelap itu, diikuti suara sandal jepit menjauh dengan cepat… masih dalam posisi jongkok.
Sejak itu, legenda Hantu Jongkok berubah.
Bukan lagi cerita untuk menakut-nakuti anak kos baru, tapi jadi pengingat bahwa bahkan makhluk halus pun bisa stres kalau sinyal jelek.
Dan kalau suatu malam kamu mendengar suara “kriet… kriet…” di lorong gelap…
Jangan langsung lari.
Siapa tahu itu cuma hantu yang lagi buffering.